Pakualaman merupakan satu bentuk kadipaten yang terbentuk pada masa pemerintahan Belanda dengan gubernur waktu itu Herman Willem Daendels yang berkuasa antara tahun 1808 sampai dengan 1811 M. Awal pembentukan pura pakualaman ini dimaksudkan Belanda untuk memecah belah lingkup keraton kasultanan Yogyakarta yakni dengan mengangkat wakilnya di keraton kasultanan Yogyakarta. Hal tersebut ditentang oleh Sultan Hamengku Buwono II yang saat itu masih bertahta.

Maka pada tahun 1810 M dengan kekuasaannya Belanda menurunkan Sultan HB II dari tahtanya dan mengangkat putra mahkota sebagai Sultan Hamengkubowono III. Tidak berlangsung lama setelah kekuasaan Belanda jatuh ketangan Inggris maka Sultan Hamengku Buwono II kembali mengambil Pakualamanalih kekuasaannya kembali dari Sultan Hamengku Buwono III yang dikembalikan posisinya sebagai putera mahkota. Pihak Inggris dengan gubernurnya saat itu yang berkuasa Thomas Stamford Raffles yang berkuasa saat itu membuat satu syarat kepada Sultan Hamengku Buwono II agar mengakui kekuasaan Inggris di Yogakarta bila menduduki tahta lagi, hal tersebut tentu saja ditolak oleh Sultan HB II, alhasil Kasultanan diserang oleh Inggris dan Sultan HB II akhirnya diasingkan ke Ambon. Dan putra mahkota yang juga pernah sebagai HB III kembali menduduki tahta yang diangkat oleh Raffles pada tanggal 28 Juni 1812 dengan mengurangi daerah kekuasaannya karena daerah tersebut diberikan kepada Pangeran Notokusumo yang dianggap berjasa kepada pemerintah Inggris. Pangeran Notokusumo masih merupakan saudara dari Sultan HB III. Pada tanggal 29 Juni 1812 pangeran Notokusumo dinobatkan oleh Raffles sebagai Pangeran Merdiko dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati  (KGPA) Paku Alam I. Dan sesuai kontrak politik Pihak Inggris pada tanggal 17 Maret 1813 dibangunlah Istana dengan nama Puro Pakualaman, dan diberitakan area sekitar istana pakualaman dan daerah antara sungaim progo dan sungai Bogowonto. Sebagai bentuk penghormatan kepada Kasultanan Yogyakarta Istana Pura Pakualaman dibangun menghadap ke selatan dan arsitekturnya adalah KGPA Paku Alam I sendiri karena beliau adalah ahli dibidang arsitektur.

Memasuki Pakualaman pertama kita menjumpai Alun alun sewandanan yang terdapat banyak pohon Pakualamanberingin, kemudian memasuki regol Danawara atau gerbang utama yang bertanggal 7-8-1884 sesuai tahun regol dibangun. Kemudian masuk dkedalam ada taman dan pendapa yang bernama Bangsal Sewotomo. Di bagian depan pendapa terdapat seperangkat alat gamelan bernama Kyai Kebogiro yang dimainkan setiap hari minggu pon. Didalam Pendapa terdapat Dalem Ageng proboyeksa yang berisikan kamar tidur, kamar pusaka, Bangsal Sewarengga, Gedung Maerakaca, Bangsal Parangkarsa,  dan gedung Purwaretna. Tempat tempat tersebut merupakan ruang tamu, tempat upacara, dan tempat bercengkrama sri paku alam dan keluarga.

Ruangan lain yang ada di dalam Pura pakualaman yakni perpustakaan dan museumyang dapat dikunjungi oleh umum. Perpustakan berada disisi barat pendapa, perpustakan berisikan koleksi naskah yang berupa cerita sejarah, karya sastra, termasuk Serat Dharma Wirayat karya sri paku Alam III. Sedangkan Museum terdiri dari tiga bagian yang masing masing ruangan berukuran 8 x 14 meter. Ruangan pertama berisikan tentang daftar silsilah atau struktur keluarga Paku Alam, Dokumen perjanjian politik dengan Inggris dan belanda, foto-foto Sri Paku Alam dalam ukuran yang besar. Juga antribut-antribut kerajaan. PakualamanDalam ruangan kedua terdapat Koleksi senjata kuno, perangkat busana Raja Pakualaman dan permaisuri, serta busana prajurit.Diruangan ini terdapat juga satu set tombak sering digunakan dalam tarian bondo yudho.

Sedangkan ruang ketiga berisi kereta kuda yang diberi nama Kereta Kiai Manik Koemolo yang merupakan hadiah dari Raffles kepada Pakualam tahun 1814 M. Dibagian belakang istana terdapat tempat tentara Pakualaman dan juga pohon Gandaria sebagai tempat meditasi raja.

Puro Pakualaman terletak di Jl. Sultan Agung, kecamatan pakualaman, kota Yogyakarta, kurang lebih 2 km kearah timur dari titik nol kilometer atau benteng vredeburg. Untuk memasuki puro pakualaman tidak dipungut biaya dan dibuka setiap hari mulai pukul 08.)) sampai dengan pukul 17.00 WIB sedangkan Museum hanya pada hari Minggu, Selasa, dan kamis  mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 13.30 WIB.

 

How to get There :

Untuk menuju lokasi ini cukup mudah beberapa angkutan umum dapat dijumpai :

1. Dengan Transjogja jalur 1A dan 1B turun di depan Museum Biologi atau Pasar Sentul

2. Dengan Bus kota jalur4 dan 12 turun depan Puro Pakualaman.

3. Taksi, Becak, Andong bahkan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat

Hotel terdekat :

Hotel terdekat dengan lokasi tersebut diantaranya Yogya Kembali Hotel atau Hotel Mutiara

Peta Lokasi  :


Lihat Puro Pakualaman di peta yang lebih besar 

Informasi penyewaan /rental mobil dengan banyak pilihan dapat di klik disini

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

Incoming search terms:

  • pakualaman
  • keraton pakualaman
  • pura pakualaman
  • puro pakualaman
  • puro pakualaman yogyakarta
  • paku alam
  • keluarga dari PAKU ALAM ke 5
  • pantai selatan di pakualaman jogja
  • pakulaman
  • lokasi puro pakulaman