Keberadaan huruf jawa yang dulu sering digunakan sebagai pengantar pada suatu tulisan atau lebih dikenal dalam surat surat pada masa kerajaan di Jawa.  Saat ini sudah sangat jarang digunakan, walaupun di sekolah sekolah di Yogyakarta dan jawa tengah huruf jawa ini masih termasuk pelajaran dengan muatan lokal yang terus diajarkan. Keberadaan huruf jawa ini semakin lama semakin hilang keberadaannya. Di Yogyakarta untuk mengupayakan agar huruf jawa dikenal terus oleh masyarakat adalah dengan menampilkan nama jalan dalam dua jenis huruf. Yakni huruf kapital biasa dan dibawahnya tertulis dengan huruf jawa.

Asal usul huruf jawa sendiri merupakan satu cerita yang sangat bermakna yaitu kesetiaan. Dimana ada seorang yang bernama Ajisaka yang mempunyai 2 abdi yang sama sama setia, karena satu peristiwa Ajisaka harus pergi dan diiringi oleh salah satu abdinya bernama Dora dan seorang lagi tetap tinggal yang bernama sembada. Sampai akhirnya Ajisaka harus tinggal di suatu tempat yang baru maka ia mengutus abdinya Dora yang ikut bersamanya untuk mengambil keris yang dibawa oleh Sembada. Karena masing masing mempunyai kesetiaan dan tanggung jawab kepada tuannya maka baik dora yang diminta untuk mengambil bersikukuh untuk meminta keris tersebut namun di lain pihak Sembada sang abdi yang diminta menjaga keris tersebut dan dipesan agar tidak diberikan kepada siapapun selain dirinya maka juga berniat mempertahankannya. Sampai akhirnya mereka berdua bertarung untuk mempertahankan rasa kesetiaan terhadap tuannya, akhirnya mereka sama sama menemui ajalnya. Untuk mengenang hal tersebutlah huruf jawa tersebut diciptakan, dengan barisan seperti ini dan berarti demikian :

Ha Na Ca Ra Ka : Ada Utusan

Da Ta Sa Wa La : Saling berkelahi/bertengkar

Pa Dha Ja Ya Nya :  Sama Saktinya/sama jayanya

Ma Ga Ba Tha Nga : Sama Sama Mati

Huruf a diatas dibaca seperti pada huruf awal kata “Opor”

 

Beberapa yang melengkapi penulisan dengan huruf jawa antara lain untuk vokal i, u, o, e, e’ serta kata yang di akhiri ng, r, dan h adalah :

 

 

 

 

 

 

Selain beberapa tanda yang ada untuk membuat huruf jawa menjadi bunyi u, i, e’, o, dan e serta kata yang berakhir r, ng dan h masih ada beberapa hal untuk menulis kata dalam huruf jawa.  Diantaranya adalah :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sedang untuk re dan le pada kata retak atau letak tidak bisa menggunakan Pepet maka harus menggunakan pa cerek untuk penulisan seperti pada terbaca retak nga lelet untuk bunyi pada kata letak

Berikut adalah beberapa perubahan jika sebagai huruf mati, penulisan jika berada diatas titik titik berarti sejajar dengan huruf lainnya sedang yang di tulis dibawah titik titik maka penulisannya harus dibawah

 

 

 

 

 

 

 

Sedang penulisan angka adalah :

 

 

 

 

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

 

Incoming search terms:

  • Aksara jawa lengkap
  • aksara jawa
  • huruf jawa lengkap
  • huruf aksara jawa lengkap
  • Tulisan jawa
  • tulisan aksara jawa lengkap
  • huruf jawa
  • tulisan aksara jawa taman wisata
  • tulisan jaman dulu yogyakarta
  • surat ijin dengan aksara jawa